Librarian Serve People Not Books

SAMPAI KAPAN ORANG-ORANG PINTAR INDONESIA BERKARYA DI LUAR NEGERI?
Dipublikasi: February 25, 2015 - Kategori: Artikel

SAMPAI KAPAN

ORANG-ORANG PINTAR INDONESIA BERKARYA DI LUAR NEGERI?

C. Mouwlaka *)

Majalah Mingguan Katolik “HIDUP”  No. 48, 30 September 2014, halaman 36-37 menurunkan laporan dengan judul  : “Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Peneliti Indonesia Berkarya di Jepang”.

Sepintas judul tulisan di majalah tersebut, kesannya biasa saja. Maksudnya bukankah memang banyak warga Indonesia yang bekerja di luar negeri, bahkan negeri ini berhasil  mengirim begitu banyak tenaga kerja ke luar negeri menjadi TKI atau TKW yang ujung-ujungnya dari kegiatan ini membawa banyak devisa bagi Indonesia. Di sisi lain, kita juga pernah membaca dan melihat tayangan TV bagaimana tenaga kerja kita di luar negeri, khususnya TKI atau TKW pulang dengan babak belur bahkan hanya pulang tinggal namanya saja.

Kembali ke tulisan di majalah di atas, laporan itu mengkisahkan tentang seorang putera Indonesia dengan usia relatif muda 44 tahun menjadi seorang ahli yang mandra guna dalam ilmu penginderaan jarak jauh (remote sensing) di negeri sakura, dan hebatnya lagi Josaphat Tetuko Sri Sumantyo atau Josh  demikian dia disapa menciptakan pesawat tanpa awak (nirawak) atau drone terbesar yang pernah dibuat di Asia.

Selengkapnya Majalah HIDUP menulis, “Kini, Josh terus berkutat mengembangkan ilmu tentang radar di Universitas Chiba. Bahkan, sejak 1 April 2013, Josh terdaftar sebagai professor termuda di Universitas Chiba. Selain mengajar, Josh juga mengepalai laboratorium di Jepang yang diberi nama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) . Di laboratorium inilah, Josh melakukan penelitian teknologi penginderaan jarak jauh, melakukan riset radar serta merancang pesawat tanpa awak atau drone. Pesawat nirawak ini bisa dikendalikan jarak jauh. Pesawat ini telah diuji coba dan bisa membawa muatan dalam jumlah banyak. Pesawat nirawak ini diberi nama  Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle atau JX-1. Pesawat nirawak ini adalah yang terbesar yang pernah dibuat di Asia, berukuran panjang enam meter serta dapat membawa peralatan radar hingga 30 kilogram. Saat ini, Josh juga dipercaya Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang untuk mengembangkan dua mikro satelit, yang kelak dapat mendeteksi dini gejala gempa bumi yang kerap mengguncang wilayah Jepang.

Josh kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, pernah tercatat sebagai peneliti BPPT pada tahun 1989-1999). Tetapi akhirnya kembali ke Jepang. Majalah itu mencatat alasan Josh kembali ke Jepang adalah ilmu dan perannya kurang mendapat perhatian. Dan di negeri sakura Josh mendapatkan apa yang menjadi pergumulan batinnya dimana ilmu dan peranya mendapat perhatian yang luar biasa, bahkan Pemerintah Jepang menempatkannya sebagai staf di Kementerian Pendidikan dan Teknologi dari tahun 2013 sampai sekarang.

Berkaryanya Pak Josh di negeri sakura, dapat dikatakan merupakan kerugian bagi negeri ini, dimana kita mengetahui bahwa Pemerintahan Jokowi–JK memiliki program untuk menempatkan sejumlah drone  (pesawat nirawak) untuk mengawasi tanah khatulistiwa ini dan perairannya. Sementara itu  kita mengetahui bagaimana beberapa kali dengan seenak perutnya pesawat-pesawat asing lenggang kangkung tanpa merasa bersalah menerobos wilayah udara Republik Indonesia. Dengan kejadian-kejadian tersebut tentu negeri ini membutuhkan radar canggih untuk mengawasi penerobos-penerobos haram melintas di udara kita. Tentu untuk mewujudkan dan menciptakan alat-alat canggih tersebut kita sangat membutuhkan tenaga ahli yang mandra guna.  Dan ironisnya di saat kita sibuk mencari-cari tenaga asing (orang asing) untuk mewujudkan kebutuhan kita tadi, ada banyak putera-putera terbaik negeri ini dibiarkan mencurahkan ilmu dan kepandaiannya serta mengabdi di negeri orang. Disini kita membayar tenaga asing dengan bayaran yang mahal, sementara para cerdik pandai negeri ini yang ada di luar negeri dibiarkan dan tidak diberi perhatian.

Sudah waktunya, Ibu Pertiwi memanggil pulang putera-putera terbaik bangsa yang berkarya di negeri orang untuk kembali membangun negeri ini. Kalau pemerintah mampu membayar mahal pekerja-pekerja asing, bukankah tidak lebih baik perhatian yang sama kita berikan kepada  putera-putera terbaik bangsa sekaliber Pak Josh ini. Harapan mereka tidak muluk-muluk: ilmu dan perannya mendapat perhatian yang layak di negerinya sendiri. Pasti, untuk masalah dedikasi dan loyalitasnya akan lebih besar dari pada para pekerja asing. Sampai kapan para orang-orang pintar Indonesia ini dibiarkan berkarya di negeri orang?.

Memang Josh sendiri tetap mempunyai komitment membantu Indonesia. Meski berkarya di negeri orang, kecintaan Josh kepada Indonesia tidak luntur. Ia tetap menjalin kerjasama penelitian dengan beberapa Universitas di Indonesia. Setiap tahun, ratusan peneliti Indonesia belajar di Josaphat Microwave Remote sensing Laboratory. Selain itu, Josh bersama sang istri mendirikan Pandhito Panji Foundation (PPF). Yayasan ini membantu para meneliti untuk melakukan riset penginderaan jarak jauh. Yayasan ini juga memberikan beasiswa kepada anak-anak Indonesia dari jenjang sekolah dasar hingga pasca sarjana.

Yang pasti, bukan hanya Josh saja orang pintar Indonesia yang berkarya di luar negeri, masih banyak Josh-Josh lain yang bertebaran di berbagai sudut dunia menyumbangkan keahlian dan kepandaiannya untuk negeri-negeri asing, baik sebagai ahli ekomomi, ahli penerbangan, ahli fisika, ahli kimia dan masih banyak lagi keahlian lainnya yang sesungguhnya sangat dibutuhkan negeri ini. Untuk ini ini dibutuhkan niat baik dan komitmen pemerintah untuk mengajak kembali dan memberikan perhatian yang layak untuk ilmu dan perannya mereka di negeri ini.

Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad agar pembangunan di negeri ini terus menggeliat dan berjalan maju dengan cepat, untuk itu dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM)  yang berkualitas bahkan yang berkualitas dunia. SDM-SDM seperti ini kita miliki berlimpah, sayangnya mereka tidak ada di Indonesia. ***

(*) Pustakawan UAJY